Review Film Penyalin Cahaya
PENYALIN CAHAYA
"Ketika
kebenaran dibungkam oleh kuasa, siapa yang masih berani bersuara?"
haii haii review film penyalin cahaya karya Wregas Bhanuteja.
Penyalin Cahaya adalah sebuah film drama thriller dengan nuansa misteri,
disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, seorang sineas muda yang dikenal lewat
karya-karyanya yang berani dan penuh muatan sosial. Film ini berdurasi 2 jam 10
menit, dan bisa kamu tonton secara eksklusif di platform streaming Netflix.
Mengusung rating 17+, film ini menyentuh isu-isu sensitif seperti kekerasan
seksual, penyalahgunaan kekuasaan, dan pencarian keadilan di tengah budaya yang
menormalisasi ketidakadilan. Gaya penyutradaraannya yang realistis dan atmosfer
film yang suram membuat Penyalin Cahaya terasa sangat dekat dengan kenyataan,
meski dibalut dengan elemen-elemen cerita yang penuh teka-teki.
Menceritakan Sur, seorang mahasiswi berprestasi, kehilangan beasiswa setelah
foto dirinya sedang mabuk tersebar di media sosial. Tidak terima karena merasa
tidak pernah mabuk, ia memutuskan untuk menyelidiki sendiri apa yang sebenarnya
terjadi pada malam itu. Dengan bantuan teman lamanya, Amin yang bekerja sebagai
tukang fotokopi di kampus Sur mulai mengurai satu demi satu lapisan kejahatan
dan kekuasaan yang selama ini tersembunyi rapih di balik institusi pendidikan
yang prestisius.
Film ini dengan berani mengangkat isu kekerasan seksual, budaya patriarki,
victim blaming, hingga relasi kuasa di lingkungan kampus. Menunjukkan betapa
sulitnya menyuarakan kebenaran dalam sistem yang melindungi pelaku. Menariknya,
film ini tidak pernah jatuh ke dalam jebakan menormalisasi kekerasan justru
sebaliknya, ia mengajak kita untuk mempertanyakannya secara kritis. Film ini
juga memiliki plot twist yang lumayan membuat orang akan geram ketika menonton.
Dari segi akting, Shenina Cinnamon sebagai Sur tampil sangat meyakinkan. Ia
berhasil memperlihatkan spektrum emosi yang luas, mulai dari rasa trauma,
kebingungan, hingga kemarahan yang terpendam semua terasa begitu manusiawi dan
menyentuh. Sementara itu, Chicco Kurniawan memerankan Amin dengan sangat apik.
Karakter ini terasa kompleks di satu sisi ia tampak setia dan membantu, tapi di
sisi lain, ada luka dan rahasia yang ia pendam. Pemeran pendukung pun bermain
dengan solid. Tidak ada karakter yang terasa sebagai pelengkap belaka
masing-masing memiliki fungsi dan bobot tersendiri dalam alur cerita.
Film ini sejak awal menghadirkan nuansa yang suram dan menekan. Warna-warna
gelap, pencahayaan remang, dan pengambilan gambar yang sering mengikuti
karakter dari belakang membangun rasa tidak nyaman, justru itulah kekuatan film
ini. Penonton diajak merasakan kecemasan dan keterasingan yang dialami
tokohnya. Suara-suara hening, denting jam, dan bunyi mesin fotokopi jadi elemen
audio yang tajam dan simbolik. Di beberapa momen, keheningan justru menjadi
bagian paling menegangkan.
Meskipun secara keseluruhan Penyalin Cahaya adalah film yang sangat rekomen
untuk di tonton, ada beberapa hal kecil yang mungkin dirasakan sebagian
penonton sebagai kekurangan. Salah satunya adalah ritme cerita di bagian
pertengahan yang terasa sedikit melambat. Beberapa adegan penyelidikan berjalan
cukup lambat, sehingga bisa membuat sebagian penonton merasa sedikit boring.
Ending dari film pun ini kurang memberi kepuasan kepada penonton, tapi justru
menekankan bahwa perjuangan belum selesai. Kebenaran tidak selalu menang dengan
megah, tapi keberanian untuk mengungkapkannya tetap penting.
Tak hanya menyentuh hati penonton dengan ceritanya yang tajam dan emosional,
Penyalin Cahaya juga menorehkan sejarah di dunia perfilman Indonesia.
Di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2021, film ini
mencatatkan rekor luar biasa: menyabet 12 Piala Citra dari 17 nominasi.
Penghargaan tersebut mencakup kategori-kategori bergengsi seperti Film
Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Asli Terbaik, hingga Pemeran Utama dan
Pendukung Terbaik, menjadikan film ini bukan hanya kuat secara tema, tetapi
juga unggul dari segi teknis dan artistik. Tak berhenti di panggung nasional, Penyalin
Cahaya juga mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Film
"Penyalin Cahaya" (judul internasional:
"Photocopier") masuk dalam kompetisi New Currents di Busan
International Film Festival (BIFF) 2021, dan bersaing untuk memperebutkan
penghargaan bergengsi seperti New Currents Award, New Currents Audience Award,
NETPAC Award, dan FIPRESCI Award.
Bagi kamu yang belum menonton, Penyalin Cahaya cepet cepet deh buat nonton
karena pasti bakal ngerasain gimana kesel nya dan bagi yang sudah menontonnya
bagaimana menurutmu akhir cerita Sur? Apakah kamu juga merasa bahwa ini bukan
akhir, tapi baru permulaan?
Tinggalkan komentarmu di bawah, dan mari kita ngobrol tentang film yang satu
ini yaww
Komentar
Posting Komentar